Jajak pendapat Kompas 4/10/2010 mengungkapkan bahwa 45,1 % responden lebih menyukai jabatan presiden dipegang oleh tokoh militer dibandingkan dengan tokoh sipil. Yang mendukung tokoh sipil hanya 26 %, sedikit lebih kecil dibandingkan dengan responden yang memilih tokoh sipil atau militer sama saja yaitu 27,1 %.

Dikotomi sipil militer yang diberlakukan dalam jajak pendapat ini bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk klarifikasi latar belakang seseorang dalam menduduki jabatan tertinggi di republik ini. Klarifikasi tersebut diperlukan sebagai dasar untuk memberikan penilaian. Dalam kenyataannya, penilaian masyarakat terhadap latar belakang seorang presiden mencerminkan harapan yang paling optimal terhadap kemampuannya dalam upaya mensejahtetakan rakyatnya dan memimpin negara ini secara bermartabat.

Tampaknya, sebagian besar responden masih lebih menginginkan seorang yang memiliki latarbelakang militer, walaupun harus diakui terdapat kekecewaan terhadap tokoh militer yang sekarang jadi presiden. Kecenderungan ini secara tidak langsung mengungkapkan bahwa tokoh militer yang jujur, adil, berwibawa, tegas dan berani masih didambakan oleh responden jajak pendapat tersebut.

Karena itu, tokoh militer yang potensial untuk menduduki kursi presiden periode berikutnya adalah Prabowo Subianto, Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Sedangkan, Jenderal Wiranto mungkin sudah harus memendam ambisinya karena faktor usia yang tidak bisa diputar balik.

Salah satu faktor penghambat yang krusial adalah citra Prabowo sebagai salah seorang jenderal yang diduga melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat pada masa Orde Baru (Orba). Untuk memulihkan citra ini maka Prabowo harus menunjukkan jati dirinya sebagai seorang tokoh militer yang manusiawi dan dapat membuktikan bahwa dirinya tidak terlibat dalam pelanggaran HAM berat seperti yang dituduhkan sebagian masyarakat.

Mungkin salah satu upaya yang sudah dilakukannya adalah merekrut mantan aktivis yang jadi korban penculikan pada masa Orba seperti Pius Lustrilanang dan Desmond J. Mahesa yang menjadi anggota DPR dari fraksi Gerindra. Upaya lainnya yang patut dilakukan adalah menampung aspirasi keluarga korban “orang hilang” untuk menyelidiki keberadaan korban lainnya yang hingga kini tidak diketahui rimbanya.

Dengan demikian, ia bisa menepis keterlibatannya dalam kasus ini sekaligus menunjukkan kualitasnya sebagai seorang pemimpin yang memperhatikan kepentingan rakyatnya yang teraniaya yang selama lebih 12 tahun terbengkalai. Langkah ini sangat penting, bukan hanya sebagai upaya pemulihan citra dirinya, tetapi juga menunjukkan kebesaran jiwanya sebagai seorang pemimpin.

Bagi saya siapa saja yang terpilih menjadi presiden 2014, ia harus ingat selalu sumpah yang pernah diucap demi tuhan, jangan sampai lama ketiduran jangan sampai lupa daratan jangan hanya pikir diri sendiri, cuma bersahabat dengan si kroni

berikut ini merupakan 50 CALON PRESIDEN INDONESIA 2014

Empat setengah tahun lagi rakyat Indonesia akan mencontreng presiden baru. Maka mulailah sekarang meneropong siapa presiden 2014 yang paling ideal. Radio Kintjir Angin dengan segala keterbatasannya mencoba menyusun daftar 50 tokoh Indonesia yang potensial menjadi presiden di tahun 2014 (disusun menurut abjad) sbb.:

01. Aboerizal Bakrie (Golongan Karya)
02. Adnan Buyung Nasution
03. Agung Laksono (Golongan Karya)
04. Akbar Tanjung (Golongan Karya)
05. Alwi Shihab (Partai Kebangkitan Bangsa)
06. Amien Rais (Partai Amanat Nasional)
07. Andi Mattalata (Golongan Karya)
08. Arbi Sanit
09. Boediono
10. Da’i Bachtiar

11. Din Syamsudin
12. Djoko Santoso
13. Djoko Suyanto (non partai politik)
14. Fahmi Idris
15. Hassan Wirajuda
16. Hasyim Muzadi
17. Hidayat Nur Wahid (Partai Keadilan Sejahtera)
18. Jenni Wahid (Partai Kebangkitan Bangsa)
19. Jero Wacik (Partai Demokrat)
20. Juwono Sudarsono

21. Kuntoro Mangkusubroto
22. Kusmayanto Kadiman
23. Kwik Kian Gie (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan)
24. Mari Elka Pangestu (non partai politik)
25. Marty Muliana Natalegawa (Partai Bulan Bintang)
26. Megawati Soekarnoputri (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan)
27. Meutia Hatta Swasono
28. Mohamad Hatta Rajasa (Partai Amanat Nasional)
29. Mohamad Jusuf Kalla (Golongan Karya)
30. Muhaimin Iskandar (Partai Kebangkitan Bangsa)

31. Muhamad Nuh (non partai politik)
32. Paskah Suzetta
33. Prabowo Subianto (Partai Gerakan Indonesia Raya)
34. Purnomo Yusgiantoro (non partai politik)
35. Rizal Malarangeng
36. Siti Fadilah Supari
37. Sofyan Djalil
38. Sri Mulyani Indrawati (non partai politik)
39. Sudi Silalahi (non partai politik)
40. Sultan Hamengkubuwono X (Golongan Karya)

41. Surya Paloh
42. Suryadharma Ali (Partai Persatuan Pembangunan)
43. Sutanto
44. Sutiyoso
45. Taufik Kiemas (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan)
46. Tifatul Sembiring (Partai Keadilan Sejahtera)
47. Widodo Adi Sutjipto
48. Wiranto (Partai Hati Nurani Rakyat)
49. Yohanes Surya
50. Yusril Ihza Mahendra (Partai Bulan Bintang)