Kondisi mesir saat ini yang kurang lebih sama dialami Indonesia di masa reformasi tahun 1998. Dan kini Negara mesir Mengikuti Tunisia untuk bergolak. Dengan keberanian yang luar biasa , rakyat Mesir menuntut turunnya rezim diktator Mubarak. Menerjang barisan pasukan keamanan bertampang seram , tidak peduli desing peluru siap merobek tubuh mereka. Rakyat Mesir sudah muak terhadap kediktatoran Mubarak yang terus dibela dan dilindungi oleh negara asing Amerika Serikat. Krisis ekonomi , kemiskinan dan pengangguran menjadi api yang membakar kemarahan. Persoalan Mesir bukanlah hanya Mubarak, tapi sistem kapitalisme sekuler . Tanpa perubahan sistem , Mesir akan kembali dipimpin oleh Amerika dengan topeng demokrasi. Mereka seolah menjadi pembela rakyat Mesir dengan teriakan reformasi, demokrasi dan HAM. Amerika tentu saja tidak membiarkan perubahan apapun yang mengancam dominasinya. Tanpa malu negara ini sepertinya berpihak kepada rakyat. Padahal, kalau Amerika benar-benar menegakkan HAM dan Demokrasasi , kenapa selama berpuluh tahun mendukung rezim diktator yang mensengsarakan rakyat. Namun, mungkin memang beginilah takdir sejarah yang harus dijalani umat Islam. Rezim diktator jatuh, diganti oleh rezim baru yang masih pro Amerika menerapkan sistem yang sama. kita yakin akan ada gelombang perubahan yang kedua yang lebih dahsyat. Dimana rakyat tidak hanya menuntut sekedar pergantian orang tapi juga sistem. Hal ini terjadi karena rakyat kemudian menyadari pergantian orang tidak banyak membawa perubahan berarti. Rakyat juga akan mencampakkan siapapun selama ini yang berkoalisi dengan sistem kufur kapitalisme, meskipun mengklaim partai Islam sekalipun. Ulama-ulama yang menjilat penguasa dzolim akan dihinakan Allah SWT , umatpun akan mencap mereka pengkhianat. Dengan dasar keimanan , rakyat tidak mau lagi dipimpin oleh mereka yang berhubungan dengan masa lalu, yang berkoalisi dengan penjajah, dan diam ketika rakyat dalam kesulitan. Perubahan sistemik yang dilakukan oleh umat Islam saat ini pastilah akan membuahkan hasil. Seruan tanpa henti terhadap perubahan sistem kapitalisme menjadi syariah Islam dan khilafah akan disambut oleh masyarakat yang muak dengan kebusukan dan kegagalan sistem demokrasi. Namun kita tegaskan perubahan yang sejati ini haruslah didasarkan kepada keimanan kepada Allah SWT. Tuntutan syariah Islam, bukanlah sekedar muncul dari perasaan marah akibat perut lapar atau kemiskinan, Tapi muncul dari keimanan kepada Allah SWT.

Krisis di Negara mesir kini membuat dampak yang sangat buruk bagi Negara- Negara yang telah menjadi relasi di bidang ekonomi dan politik termasuk juga dengan Indonesia antara lain yaitu Bagi pelaku pasar, Mesir cukup mempengaruhi kenaikan harga minyak dunia. Investor khawatir kerusuhan di Mesir tersebut bisa menyebar ke negara-negara tetangga sehingga bisa membahayakan stabilitas di Timur Tengah yang merupakan penghasil minyak utama dunia. Tidak cuma itu saja, Goldman Sachs Group Inc memprediksi krisis politik Mesir bisa meningkatkan risiko ketersediaan beras dalam waktu dekat. Penimbunan beras dari sebelumnya mencapai dua juta metrik ton bisa mencapai tiga juta metrik ton. Demikian pula dengan bursa China yang menguat berkat kenaikan harga saham-saham perusahaan minyak dan emas. Terhadap situasi tersebut, investor semakin enggan berinvestasi di pasar saham. Sebagian dari mereka mulai mengalihkan investasi di tempat lain yang aman, termasuk dollar AS. Para investor mencermati peningkatan risiko-risiko yang dapat terjadi karena situasi di Timur Tengah yang semakin rumit. Pasar sepertinya menunjukkan pergerakan yang bergejolak, digoyang oleh sentimen risiko seperti itu. Sedangkan pengaruh krisis Mesir terhadap Indonesia yaitu kalangan analis masih optimis bahwa krisis Mesir tidak berpengaruh besar bagi pasar nasional. Investor asing menilai risiko ketidakstabilan politik di negara-negara berkembang karena infl asi pangan tidak terkontrol. Hal ini dikhawatirkan akan menular ke negara-negara yang setipe Mesir, yaitu Yaman dan Tunisia yang dikategorikan sebagai negara-negara berkembang. “Selain itu ada kekhawatiran dengan suplai minyak bumi dan juga jalur kargo barang di Terusan Suez akan terganggu. Pengamat pasar modal Willy Sanjaya mengatakan, pelemahan indeks ini hanya dipicu faktor eksternal dan internal sekaligus. Dari regional, pasar mengkhawatirkan situasi geopolitik di Mesir yang sedang memanas. Mereka khawatir kerusuhan politik menular ke negara-negara Timur Tengah lain sehingga diperkirakan mengganggu distribusi minyak dunia. Akan tetapi dampak Mesir terhadap bursa saham tidak akan sebesar dampak perang. Untuk itu kita berdoa saja agar krisis di mesir dapat terselesaikan dengan cepat dan juga pemerintahannya dapat berjalan dengan normal kembali.